Showing posts with label Linux. Show all posts
Showing posts with label Linux. Show all posts

Meremote server / PC lain tanpa password dengan menggunakan SSH.

Untuk meremote Server / PC lain berbasis linux kita bisa menggunakan SSH. Apa itu SSH bisa dilihat di http://wiki.linux.or.id/Ssh.

Misalkan disini kita punya dua buah komputer (satu PC A dan satu lagi server B). Agar PC A dapat terhubung tanpa menggunakan password ke server B, maka PC A harus memberikan identitas key nya ke server B. Diasumsikan di PC A user kita adalah “testingA” dan diasumsikan di server B kita akan masuk ke user “testingB”

  1. Pastikan package ssh sudah terinstall di kedua komputer.
  2. Buat key di PC A dengan perintah

    “ssh-keygen -t rsa”

  3. lihat isi key di PC A dengan perintah

    “cat > /home/testingA/.ssh/id_rsa.pub”

    contoh isi dari file tersebut kira2 seperti ini:

    “ssh-rsa AAAAB3NzaC1yc2EAAAABIwAAAQEAxasUAQjVwcIj11Hemz jBr3NCWnGmfmMu7u4Kzmp/EUp1l1P9COjWwn3TaX++e8hVtKtoA/BzZ pnf/wnR5HRTbf09IOWEtaHUH5DCCQziXtHMU7+inBJFGoYmkQKWEvSg Hm9ePKU9lGf6R3wj7v6W5eOR3hTlbzDa+nhjuu90tredcNFys1ZvGAs Eh8GDG+vTfbXOgNl7XHJ2oZ0wZV1rgtKaefNzvkLYK3dIx8Jt2rKuSo KrnFRSwJYzwD+jMUWKERhaS0ZCre+YNqRYjcZY6BkhK+tUQGwNuWsYp nPlDAeACCwLXVsUZQt3zuMdkDeyDeYpeREkMLQg90w3znMIcQ== testingA@pcA”

    Tidak perlu dipahami cukup di copy saja kedalam clipboard dengan mengeblok dari awal (ssh-rsa) sampai akhir (pcA).

  4. dari server B jalankan perintah

    “ls -l /home/testingB/.ssh/”

  5. Lalu lihat apakah sudah ada file yang bernamakan authorized_keys. Jika belum, buatlah dengan perintah

    “cat > /home/testingB/.ssh/authorized_keys”

    tekan ENTER lalu paste isi id_rsa.pub diatas lalu tekan Ctrl-D untuk menyimpan. Untuk Red Hat based dan beberapa distro pastikan authorized_keys yang anda buat mempunya attribut rwx—— atau (700). Jika belum maka ubah attributnya dengan perintah

    “chmod 700 /home/testingB/.ssh/authorized_keys”

    .

  6. Jika file authorized_keys sudah ada, maka isi dari id_rsa.pub PC A dapat di tambahkan dibawah key yang lain, dengan menggunakan editor vi atau text-editor lainnya.
  7. Coba lakukan remote ke server B dari PC A dengan perintah:

    “ssh testingB@serverB”

  8. Jika prosedurnya benar maka anda akan terhubung langsung ke server B tanpa dimintai password lagi.

Jika kita ingin menambah komputer lagi (PC C dan PC D misalnya) yang bisa meremote ke server B tanpa password, maka kita harus meng-generate id_rsa.pub dari kedua PC tersebut (dengan perintah

“ssh-keygen -t rsa”

) lalu isi dari masing2 id_rsa.pub itu kita tambahkan di authorized_keys di server B.

Broadcomm wireless nic (Acer Aspire 3003) di Suse 10

Browsing internet di dunia maya dengan menggunakan wireless memang menyenangkan. Karena tidak perlu dipusingkan dengan kabel yang melilit. Tetapi ketika saya menginstall sistem operasi linux SuSE 10.0 pada laptop Acer Aspire 3003 dimana semua proses pendeteksian hardware sukses, namun BroadComm wireless network card nya tidak berfungsi.

Akhirnya coba cari cara di internet bersama paman (Google) dan terdengar samar-samar tentang ndiswrapper (apaan sih tuh), sampai akhirnya menemukan page http://egofanatic.com/linuxonlaptops/Dell600m.php#WirelessNotes Pada page ini dijelaskan dengan cukup baik tentang gambaran ndiswrapper serta langkah-langkah pengkonfigurasian broadcomm wireless network card pada laptop dell dengan SuSE 10 (saya berfikir seharusnya bisa juga untuk Aspire saya :D).

Jadi inti dari ndiswrapper itu sepertinya untuk meload driver wireless network card untuk windows XP untuk di jalankan di linux (wow keren :D).

Menggunakan Ndiswrapper untuk menjalankan wireless cukup mudah pada SuSE 10.

Berikut adalah langkah-langkahnya, semua perintah dibawah ini harus dilakukan oleh root.

  1. Install ndiswrapper dan wireless tool (package ini terdapat pada YAST)
  2. Buat direktori untuk menampung driver Broadcomm versi Windows XP

    mkdir $HOME/driver-broadcomm

  3. Siapkan driver Broadcomm untuk windows XP, yang berisikan antara lain file bcmwl5.inf dan bcmwl5.sys. Driver nya terdapat di CD bawaan atau bisa juga diambil dari website Acer. Copykan file tersebut kedalam linux (atau semua file juga boleh :D)

    cp [direktori/file driver] $HOME/driver-broadcomm

  4. Masuk ke direktori $HOME/driver-broadcomm, lalu jalankan perintah

    ndiswrapper -i bcmwxx.inf

    masukkan file *.inf yang sesuai dengan file yang ada. Pada layar akan terlihat pesan instalasi driver.

  5. Untuk memastikan apakah driver telah terinstall jalankan perintah:

    ndiswrapper -l

    Seharusnya tampil pesan kurang lebih seperti ini:

    Installed ndis drivers: bcmwxx driver present, hardware present

    Pesan ini menunjukkan bahwa driver bcmwxx telah terinstall dan dapat mengenali hardware wireless network cardnya.

  6. Lalu masukkan module ndiswrapper ke modprobe dengan perintah:

    ndiswrapper -m

    Lalu akan tampil pesan kurang lebih seperti ini:

    Adding “alias wlan0 ndiswrapper” to /etc/modprobe.d/ndiswrapper

  7. Lalu load driver wireless nya dengan menggunakan modprobe, dengan perintah:

    modprobe ndiswrapper

    Tidak ada tampilan dari perintah ini, jadi gunakan perintah dmesg untuk menampilkan pesan yang berhubungan dengan wireless network card. Jika berhasil akan tampil kurang lebih pesan seperti ini:

    Adding “alias wlan0 ndiswrapper” to /etc/modprobe.d/ndiswrapper ndiswrapper: module not supported by Novell, setting U taint flag. ndiswrapper version 1.2 loaded (preempt=no,smp=no) ndiswrapper: driver bcmwl5 (Broadcom,06/25/2004, 3.40.73.0) loaded ACPI: PCI Interrupt 0000:02:03.0[A] -> Link [LNKB] -> GSI 5 (level, low) -> IRQ 5 ndiswrapper: using irq 5 SFW2-INext-DROP-DEFLT IN=eth0 OUT= MAC= SRC=10.10.5.25 DST=224.0.0.251 LEN=76 TOS=0×00 PREC=0×00 TTL=255 ID=0 DF PROTO=UDP SPT=5353 DPT=5353 LEN=56 wlan0: ndiswrapper ethernet device 00:70:84:fb:8b:43 using driver bcmwl5, configuration file 14E4:4324:1028:0003.5.conf wlan0: encryption modes supported: WEP

Pada psan dmesg diatas driver ndiswrapper telah berhasil di load

ndiswrapper version 1.2 loaded (preempt=no,smp=no)

Untuk menggunakan wireless nya gunakan Wireless Tool. Secara default radio wireless adalah off, gunakan Fn+F2 untuk mengaktifkan radionya sebelum menjalankan Wireless Tool untuk men-scan dan connect ke jaringan wireless (infrastructure/ad hoc).

Jalankan perintah iwconfig pada console

iwconfig

dan pada layar akan tampil pesan kurang lebih sebagai berikut:

wlan0 IEEE 802.11g ESSID:off/any Mode:Managed Frequency:2.462 GHz Access Point: 00:00:00:00:00:00 Bit Rate:54 Mb/s Tx-Power:-2147483648 dBm RTS thr:2347 B Fragment thr:2346 B Encryption key:off Power Management:off Link Quality:100/100 Signal level:-10 dBm Noise level:-256 dBm Rx invalid nwid:0 Rx invalid crypt:0 Rx invalid frag:0 Tx excessive retries:0 Invalid misc:95949 Missed beacon:0

Saat ini interface wlan0 belum terhubung ke access point, karena kita belum memerintahkannya untuk connect ke jaringan wireless. Untuk men-scan jaringan wireless yang ada (infrastructure/ad hoc) jalankan perintah:

iwlist wlan0 scanning

Seharusnya jaringan wireless yang ada akan tampil pada layar.

Untuk connect ke WiFiTEST access point, jalankan perintah:

iwconfig wlan0 essid WiFiTEST mode managed enc ABCDEF1234567890ABCDEF1234 [1] open channel 11

dengan asumsi

SSID Accesspoint : WiFiTEST Encription Key : ABCDEF1234567890ABCDEF1234 kunci pertama [1] Channel : 11

Lalu aktifkan interface wlan0 nya, dengan perintah:

ifconfig wlan0 up

aktifkan DHCP pada interface wlan0 (bila perlu) dengan perintah:

dhcpcd wlan0

lalu jalankan lagi perintah

iwconfig wlan0

untuk melihat status interface wlan0 saat ini. Seharusnya SSID access point sudah terlihat dan MAC Address dari wlan0 sudah tampil.

Konfigurasi Linux sebagai Gateway Internet

Btw, gateway itu sendiri memiliki definisi sebuah komputer yang melayani konversi protokol antara beberapa tipe yang berbeda dari suatu network atau program aplikasi. Sebagai contoh, sebuah gateway dapat meng-convert sebuah paket TCP/IP menjadi paket NetWare IPX atau dari Apple Talk menjadi DECnet, dan lain-lain. ( Andino-Kamus TI – Ilmukomputer.com )

Gateway inilah yang nantinya akan menghubungkan jaringan local dalam hal ini LAN dengan jaringan public yaitu internet.

Sebagai catatan dalam percobaan ini penulis menggunakan Redhat Linux 9, dan Fedora Core 4. Menggunakan koneksi ADSL speedy dengan IP Static ( penulis pun bingung, karena baru pertama kali ini penulis diberikan koneksi ADSL speedy dengan IP Static. :D . Ini nyata.)

Sebelumnya paket yang kita butuhkan adalah :

rp-pppoe-3.5-27.i386.rpm

Tapi setahu penulis paket tersebut sudah terinstall dalam distro tersebut, untuk mengetahui apakah pake tersebut sudah terinstall didalamnya login sebagai root :

root@alk.root#rpm -qa | grep pppoe

rp-pppoe-3.5-27

Perlu diketahui komputer yang akan dijadikan sebagai gateway nanti membutuhkan 2 ethernet card nantinya.

Yupz, langsung aja kita menuju pokok pembahasannya.

Langkah awal yang harus dilakukan adalah memeriksa apakah kedua ethernet card tersebut sudah terdetek dengan baik:

root@alk.root#ifconfig

eth0 Link encap:Ethernet HWaddr 00:0C:29:EE:71:11

inet addr:192.168.1.1 Bcast:192.168.1.255 Mask:255.255.255.0

inet6 addr: fe80::20c:29ff:feee:7111/64 Scope:Link

UP BROADCAST RUNNING MULTICAST MTU:1500 Metric:1

RX packets:61 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0

TX packets:85 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0

collisions:0 txqueuelen:1000

RX bytes:6938 (6.7 KiB) TX bytes:10092 (9.8 KiB)

Interrupt:10 Base address:0×1080

eth1 Link encap:Ethernet HWaddr 00:0C:29:EE:71:1B

inet addr:192.168.100.1 Bcast:192.168.100.255 Mask:255.255.255.0

inet6 addr: fe80::20c:29ff:feee:711b/64 Scope:Link

UP BROADCAST RUNNING MULTICAST MTU:1500 Metric:1

RX packets:0 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0

TX packets:21 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0

collisions:0 txqueuelen:1000

RX bytes:0 (0.0 b) TX bytes:1796 (1.7 KiB)

Interrupt:9 Base address:0×1400

lo Link encap:Local Loopback

inet addr:127.0.0.1 Mask:255.0.0.0

inet6 addr: ::1/128 Scope:Host

UP LOOPBACK RUNNING MTU:16436 Metric:1

RX packets:35 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0

TX packets:35 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0

collisions:0 txqueuelen:0

RX bytes:2190 (2.1 KiB) TX bytes:2190 (2.1 KiB)

Yup, jika anda mendapatkan komentar seperti itu silahkan menuju ke tahap selanjutnya. Jika tidak ? Silahkan googling :D~~~.

Langkah berikutnya adalah mengkonfigurasi ethernet card tersebut. Agar nantinya konfigurasi tersebut dapat dijalankan secara otomatis ketika boot. File konfigurasi ethernet dalam linux memiliki penamaan ethx, x ini menandakan pengurutan, jika terdapat 2 ethernet card dalam komputer anda maka, file konfigurasinya adalah eth0 dan eth1. Letak file konfigurasi secara default terdapat dalam : /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-ethx

Karena nantinya kita akan menggunakan 2 lancard tersebut, maka file yang akan kita konfigurasi adalah :

/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 dan /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth1

Sebagai contoh, konfigurasi eth0 yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :

DEVICE=eth0

BOOTPROTO=static

BROADCAST=192.168.1.255

HWADDR=00:0C:29:EE:71:11

IPADDR=192.168.1.1

NETMASK=255.255.255.0

NETWORK=192.168.1.0

ONBOOT=yes

TYPE=Ethernet

DEVICE : merupakan ethernet apa yang akan dikonfigurasi.

BOOTPROTO : status dari penggunaan ip address, apakah bersifat dynamic ( DHCP ) atau static.

BROADCAST : alamat broadcast jaringan yang digunakan.

HWADDR : alamat fisik dari ethernet card tersebut, biasa disebut Mac Address.

IPADDR : alamat ip yang nanti akan digunakan oleh gateway linux. Alamat ini yang nantinya akan berhubungan langsung dengan protol tcp/ip.

NETMASK : subnet mask yang digunakan oleh device eth0. subnet mask ini digunakan untuk membagi jaringan menjadi lebih kecil.

ONBOOT : apakah nanti akan diproses ketika BOOT ??

Dan konfigurasi eth1 yang digunakan oleh penulis :

DEVICE=eth1

BOOTPROTO=static

BROADCAST=192.168.100.255

HWADDR=00:0C:29:EE:71:1B

IPADDR=192.168.100.1

NETMASK=255.255.255.0

NETWORK=192.168.100.0

ONBOOT=yes

TYPE=Ethernet

Kemudian restart service network.

root@alk.root#/etc/init.d/network restart

Sebelum ke langkah selanjutnya, perlu diketahui bahwa, anda diharuskan untuk mengaktifkan mode bridge pada modem adsl.

Langkah selanjutnya adalah konfigurasi ADSL-nya :

root@alk.root#adsl-setup

# pertama kali akan ditanyakan username yang telah diberikan oleh pihak ISP anda

LOGIN NAME Enter your Login Name: 121303xxxxxx@telkom.net #device yang berhubungan langsung dengan modem adsl anda, dalam hal ini eth1

INTERFACE Enter the Ethernet interface connected to the ADSL modem

For Solaris, this is likely to be something like /dev/hme0.

For Linux, it will be ethX, where ‘X’ is a number.

(default eth0):eth1

# kalo yang ini pilih no aja, karena ketika demand diaktifkan maka anda tidak bisa

# menggunakan IP yang dynamic

Enter the demand value (default no): no # DNS yang digunakan, bagian ini bisa diisi nanti. Lewat saja. # password yang diberikan oleh ISP anda, berbarengan dengan diberikannya username tadi

PASSWORD Please enter your Password:xxxxxxxx

# pemberian akses kepada user untuk menjalankan/mematikan adsl

USERCTRL Please enter ‘yes’ (three letters, lower-case.) if you want to allow normal user to start or stop DSL connection (default yes):yes

# langkah berikutnya adalah berkenaan dengan firewall disini penulis memilih no 2 The firewall choices are: 0 - NONE: This script will not set any firewall rules. You are responsible for ensuring the security of your machine. You are STRONGLY recommended to use some kind of firewall rules. 1 - STANDALONE: Appropriate for a basic stand-alone web-surfing workstation 2 - MASQUERADE: Appropriate for a machine acting as an Internet gateway

for a LAN

Choose a type of firewall (0-2):2

# apakah akan dijalankan secara otomatis ketika boot ?

Start this connection at boot time

Do you want to start this connection at boot time?

Please enter no or yes (default no):yes

Dan selanjutnya ketik y saja untuk mensave konfigurasi diatas.

Ada beberapa konfigurasi yang perlu dilakukan. Penulis memberikan sedikit konfigurasi tambahan yang diletakkan pada file /etc/rc.local

echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward

iptables -A POSTROUTING -j MASQUERADE -t nat -s 192.168.1.0/24 -o ppp0

konfigurasi tersebut digunakan untuk meneruskan paket ip dan melakukan masquerade. Masquerade sendiri merupakan proses membagi bandwith, karena pada dasarnya isp hanya memberikan satu koneksi dengan satu ip, maka agar dapat digunakan secara beramai-ramai maka perlu dilakukan masquerade.

Selanjutnya anda tinggal menambahkan dns server yang diberikan oleh telkom pada file konfigurasi /etc/resolv.conf, yang penulis gunakan adalah 202.134.0.155.

root@alk.root#echo nameserver 202.134.0.155 > /etc/resolv.conf

root@alk.root#cat /etc/resolv.conf

nameserver 202.134.0.155

Selanjutnya anda tinggal menjalankan adsl-start.

Sejarah Linux

Era Pra 1990an

Era 1980-an merupakan akhir dari zaman keemasan komputer mini -- komputer yang tidak secanggih "main-frame", namun setiap sistem terdiri dari bongkahan besar. Nama-nama besar pada zaman tersebut, seperti "DEC - Digital Equipment Corp.", "DG -- Data General", "HP -- Hewlett Packard", "Honeywell -- Bull", "Prime", dan beberapa nama lainnya. Setiap komputer mini ini, dijalankan dengan sistem operasi tersendiri. Setiap sistem operasi ini tidak cocok (kompatibel) dengan sistem operasi dari sistem lainnya. Sebuah program yang dikembangkan pada sistem tertentu, belum tentu dengan mudah dapat dijalankan pada sistem lainnya.

Masalah ini mulai teratasi dengan sebuah sistem operasi yang lagi naik daun, yaitu UNIXTM. Sistem UNIX ini dapat dijalankan pada berbagai jenis komputer. Selain beroperasi pada komputer mini, UNIX pun dapat dioperasikan pada sebuah generasi komputer "super mikro", yang berbasis prosesor 32 bit seperti Motorola MC68000. Ya: pada waktu itu, Motorola belum terkenal sebagai produser Hand Phone!

Sistem berbasis UNIX pertama di Universitas Indonesia (1983) ialah komputer "Dual 83/20" dengan sistem operasi UNIX versi 7, memori 1 Mbyte, serta disk (8") dengan kapasitas 20 Mbytes. Sistem tersebut tentunya sangat "terbatas" dibandingkan komputer zaman sekarang. Namun, penelitian dengan memanfaatkan komputer tersebut, menghasilkan puluhan sarjana S1 UI. Tema penelitian S1 pada saat tersebut berkisar dalam bidang jaringan komputer, seperti pengembangan email (PESAN), alih berkas (MIKAS), porting UUCP, X.25, LAN ethernet, network printer server, dan lainnya. Komputer "Dual 83/20" ini, kemudian lebih dikenal dengan nama "INDOGTW" (Indonesian Gateway), karena pada akhir tahun 1980-an digunakan "dedicated email" server ke luar negeri. Sistem INDOGTW ini beroperasi non-stop 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Fungsi riset sistem tersebut di atas, digantikan oleh komputer baru "INDOVAX", yaitu DEC VAX-11/750 dengan sistem unix 4.X BSD dengan memori 2 Mbytes, serta disk 300 Mbytes. Pada waktu itu, sanga lazim menamakan satu-satunya VAX pada setiap institusi, dengan akhiran "VAX". Contohnya: UCBVAX (Universitas Berkley), UNRVAX (Universitas Nevada Reno), DECVAX (DEC), ROSEVAX (Rosemount Inc), MCVAX (Amsterdam). Sistem ini pun kembali menghasilkan puluhan sarjana S1 UI untuk berbagai penelitian seperti rancangan VLSI, X.400, dan sejenisnya.

Untuk mewadahi para pengguna dan penggemar UNIX yang mulai berkembang ini, dibentuk sebuah Kelompok Pengguna Unix (Unix Users Group) yaitu INDONIX. Kelompok yang dimotori oleh bapak "Didik" Partono Rudiarto (kini pimpinan INIXINDO) ini melakukan pertemuan secara teratur setiap bulan. Setiap pertemuan ini akan diisi dengan ceramah kiat dan trik UNIX, serta sebuah diskusi/ tanya-jawab.

Komputer mini -- yang UNIX mau pun yang bukan -- dominan hingga pertengahan tahun 1980-an. Komputer Personal (PC) masih sangat terbatas, baik kemampuannya, mau pun populasinya. Bahkan hingga akhir 1980-an, PC masih dapat dikatakan merupakan benda "langka" dan "mewah". Semenjak pertengahan 1980-an, muncul sistem komputer "super-mikro" berbasis prosesor Motorola MC68000 dan sistem operasi Unix. Sejalan dengan ini, juga muncul PC/AT berbasis prosesor Intel 80286 dan 80386 dengan sistem operasi XENIX/SCO UNIX.

Kehadiran prosesor Intel 80286 (lalu 80386) telah mendorong pengembangan sistem operasi dengan nama "XENIX". Harga sistem yang relatif murah, berakibat kenaikan populasi sistem Unix yang cukup signifikan di Indonesia. Aplikasi yang populer untuk sistem ini ialah sistem basis data Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Pada awalnya, setiap sistem operasi Unix dilengkapi dengan kode sumber (source code). Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk negara non-US (terutama non Eropa) akibat regulasi ekspor US. Sebagai alternatif Prof. Andrew S. Tanenbaum dari VU (Belanda) mengedarkan sebuah sistem Operasi sederhana dengan nama "MINIX" (Mini Unix). Titik berat arah pengembangan MINIX ialah sesederhana mungkin agar dapat dipelajari dengan mudah dalam satu semester. Program Studi Ilmu Komputer Universitas Indonesia, tercatat pernah membeli source code MINIX dua kali, yaitu versi 1.2 (1987) dan versi 1.5 (1999).

Sebagai penunjang mata kuliah Sistem Operasi, telah hadir MINIX (Mini Unix) yang bahkan dapat dijalankan pada PC biasa tanpa HardDisk! Namun, MINIX memiliki dua keterbatasan bawaan. Pertama, dititik-beratkan agar mudah dipelajari untuk keperluan pendidikan. Akibatnya, dengan sengaja tidak dibuat canggih dan rumit. Kedua, (pada awalnya) MINIX harus dibeli dengan harga lebih dari USD 100 per paket. Harga ini tidak dapat dikatakan murah bahkan untuk ukuran kantong mahasiswa di luar negeri. Namun, MINIX telah digunakan di Program Studi Ilmu Komputer Universitas Indonesia FUSILKOM UI, FakUltas ILmu KOMputer UI) sebagai bagian dari kuliah sistem operasi menjelang akhir tahun 1990an.

Besar kemungkinan, siapa pun pengguna MINIX saat itu (termasuk penulis), pernah memiliki angan-angan untuk merancang sebuah kernel "idaman" pengganti MINIX yang dapat -- "dioprek", "dipercanggih", dan "didistribusikan" -- secara bebas. Tidak heran, Linus B. Torvalds mendapat sambutan hangat ketika tahun 1991 mengumumkan kehadiran sebuah kernel "idaman" melalui buletin USENET News "comp.os.minix". Kernel ini kemudian lebih dikenal dengan nama Linux. Namun, Linux tidak langsung mendapatkan perhatian di UI.

<< | ^^TOP^^ | NEXT>>>

Era 1990an

Belum jelas, siapa yang pertama kali membawa Linux ke Indonesia. Namun, yang pertama kali mengumumkan secara publik (melalui milis pau-mikro) ialah Paulus Suryono Adisoemarta dari Texas, USA, yang secara akrab dipanggil Bung Yono. Ketika 1992, bung Yono berkunjung ke Indonesia membawa distro SoftLanding System (SLS) dalam beberapa keping disket. Kernel Linux pada distro tersebut masih revisi 0.9X (alpha testing), dengan kemampuan dukungan jaringan yang sangat terbatas. Pada awal tahun 1990-an, kisaran harga sebuah ethernet board ialah USD 500; padahal dengan kinerja yang jauh dibawah board yang sekarang biasa berharga USD 5.-. Dengan harga semahal itu, dapat dimaklumi, jika masih jarang ada pengembang LINUX yang berkesempatan untuk mengembangkan driver ethernet.

Perioda 1992-1994 merupakan masa yang vakum. Secara sporadis, terdengar ada yang mendiskusikan "Linux", namun terbatas pada uji coba. Kernel Linux 1.0 keluar pada tahun 1994. Salah satu distro yang masuk ke Indonesia pada tahun tersebut ialah Slackware (kernel 1.0.8). Distro tersebut cukup lengkap dan stabil sehingga merangsang tumbuhnya sebuah komunitas GNU/ Linux di lingkungan Universitas Indonesia. Pada umumnya, PC menggunakan prosesor 386 dan 486, dengan memori antara 4-8 Mbytes, dan hardisk 40 - 100 Mbyte. Biasanya hardisk tersebut dibuat "dual boot", yaitu dapat dalam mode DOS atau pun Linux.

Slackware menjadi populer dikalangan para mahasiswa UI, karena pada waktu itu merupakan satu-satunya distribusi yang ada :-). Banyak hal-hal baru yang "dioprek"/ "setup". Umpama: yang pertama kali men-setup X11R4 Linux di UI ialah Ivan S. Chandra (1994).

Tahun 1994 merupakan tahun penuh berkah. Tiga penyelenggara Internet sekali gus mulai beroperasi: IPTEKnet, INDOnet, dan RADnet. Pada tahun berikutnya (1995), telah tercatat beberapa institusi/ organisasi mulai mengoperasikan GNU/Linux sebagai "production system", seperti BPPT (mimo.bppt.go.id), IndoInternet (kakitiga.indo.net.id), Sustainable Development Network (www.sdn.or.id dan sangam.sdn.or.id), dan Universitas Indonesia (haur.cs.ui.ac.id). Umpamanya, Sustainable Development Network Indonesia (sekarang diubah menjadi Sustainable Debian Network) menggunakan distribusi Slackware (kernel 1.0.9) pada mesin 486 33Mhz, 16 Mbyte RAM, 1 Gbyte disk. Namun sekarang, situs tersebut numpang webhost di IndoInternet.

Kehadiran internet di Indonesia merangsang tumbuhnya sebuah industri baru, yang dimotori oleh para enterpreneur muda. Mengingat GNU/ Linux merupakan salah satu pendukung dari Industri baru tersebut, tidak dapat disangkal bahwa ini merupakan faktor yang cukup menentukan perkembangan GNU/Linux di Indonesia. Selama perioda 1995-1997, GNU/Linux secara perlahan mulai menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Bahkan krismon 1997 pun tidak dapat menghentikan penyebaran ini.

Pada tahun 1996, pernah ada sebuah milis linux yang dapat dikatakan kurang begitu sukses. Anggota dari milis tersebut ialah:

Sl1zr@cc.usu- and1@indo.net- arwiya@indo.net- bjs@apoll.geologie- budi@cool.mb- chairilk@indo.net- harry@futaba.nagaokaut- herkusut@soziologie- ibrahim@indovax- idarmadi@indo.net- jimmyt@turtle- jonathan@bandung.wasantara- louis@Glue- mermaid+@CMU- mwiryana@netbox- rheza@indo.net- rosadi@indo.net- sentiono@cycor- trabas@indo.net- wibowo@hpsglsn- wiwit@bandung.wasantara- edybs@jakarta.wasantara- ssurya@elang- dhie@bandung.wasantara- tanu@m-net.arbornet- avinanta@gdarma- pink@cbn.net- louis@webindonesia-

Sebelum 1997, issuenya mungkin "Apa itu Linux?" Alhamdulillah, dewasa ini, yang terjadi malah sebaliknya: "Anda belum kenal Linux?????" Demikian sekilas perkembangan sistem UNIX sebelum 1997. Mudah-mudahan, ini akan memicu para pelaku IT lainnya untuk melengkapi hikayat ini, terutama pasca 1997.

Belajar Command Linux

Belajar Command Linux

Maaf klo para linux mania dah bosen liat artikel ini, sebab ini saya pake buat buku panduan yang bisa dimana-mana asal ada i-net ajah. Dan mungkin bisa membantu para pemula linux buat lebih mengenal arti dari sebuah Command di linux secara sederhana dan simple. Halaman ini sebagian besar saya ambil dari pemula.linux.or.id Command yg sering dipake di linux :

  • adduser : untuk menambah user yang berhak masuk dalam system linux yang terinstal. contoh command = adduser pathy . setelah itu set password dll.
  • alias : untuk memberi nama lain dari perintah linux misalkan ls(di ms-dos = dir) kita pengen ganti ls menjadi dir maka command $ alias dir=ls
  • cat : menampilkan isi sebuah layar $ cat namafile
  • chmod : menambah atau mengurangi ijin pemakai untuk mengakses sebuah direktori dengan menggunakan variable r untuk read, w untuk write, x untuk execute. variable u =user, g buat group, o untuk other dan a buat semua/all. Atau penggunaan angka 4 read, 2 write, dan 1 execute. contoh : memberi ijin pada file shorewall untuk di read n execute, maka chmod ug+rx shorewall
  • chown : merubah kepemilikan sebuah file atau direktori. chown
  • grep : Global Regular Expresion Parse perintah untuk mencari file dengan kriteria yang ditentukan. contohnya grep shorewall untuk mencari tempat shorewall
  • ls : untuk menampilkan isi sebuah direktori, perintah ini sama dengan dir di ms-dos. /etc/rc.d/ ls
  • mount : Perintah ini akan me-mount filesystem ke suatu direktori atau mount-point yang telah ditentukan. Hanya superuser yang bisa menjalankan perintah ini. Untuk melihat filesystem apa saja beserta mount-pointnya saat itu, ketikkan perintah mount. misalkan me masang cd-rom di drive mnt : /mount/cdrom /mnt/cdrom, dan untuk melepasnya umount/cdrom.
  • who : menampilkan siapa saja yang lagi masuk atau menggunakan aktif di system anda
  • Udah dech sementara ini aja yang lain nyusul aja klo lagi inget n ada kemauan lagi.